News

What's happening in PresUniv


Published: 14 Jul 2020

The COVID-19 pandemic is still haunting our community right now. The number of COVID-19 positive patients that continue to increase becomes a heartbreaking fact that must be handled immediately. In response to this situation, a number of President University's International Relations students held a webinar entitled "The Millennial Way in Tackling the Challenges of COVID-19". This webinar presented experts to provide accurate information on this issue. They were Pulmonology and Respiratory specialist doctors, Dr. Nina Aspasi Harli Siregar, Sp.P., and Expert Staff from MPR RI and founder of the Institute for Border Studies Millennial Think Tank, Harsen Roy Tampomuri.

“As university students, we wanted to use the resources at hand to feasibly educate, inspire, and most importantly, unite the greater community in these difficult moments when it is easy to become idle with our time and/or lose hope,” said Matthew Tarigan, the project manager of the webinar. By targeting young people in this webinar, Matthew revealed, “We wholeheartedly believe that millennials possess a kind of influence that, if used wisely, brings a revolutionary change and hope to Indonesia during this unprecedented time.”

In her session, dr. Nina explained that young people with high mobility tend to be "asymptomatic carriers", meaning a person infected with the virus but displays no symptoms. For this reason, young people have an obligation to look after people who are vulnerable to this virus, such as seniors and children. "Because we have the potential to be virus carriers, we must maintain our personal health and practice healthy behavior so that our families and people around us are safe," she said. As people who are more familiar with the internet, also tend to be more active and easy to get accurate information through trusted sites, young people must educate and become myth-buster, or an antidote to hoaxes.

In line with Dr. Nina, Harsen said that young people play an important role in tackling the challenges during a pandemic. Young people have the ability to be a bridge between generations so that eliminate the gap between generations. "Here, young people can help older generations or inclusive people get the right information about COVID-19," he said. In addition, by utilizing technology, young people can also create more creative businesses that allow workers to work from home so that in the midst of a pandemic, people can remain productive.

This webinar is part of the Statespersonship course project where students hold social activities after completing the four main classes in the course, namely Pancasila, Indonesian Language, Religion, and Citizenship. (SL)

 


 

Cara Milenial untuk Menangkal COVID-19

 

Pandemi COVID-19 saat ini masih menjadi musuh terbesar yang harus diperangi semua pihak. Jumlah pasien positif COVID-19 yang terus meningkat menjadi fakta memilukan yang harus segera ditindaklanjuti. Sebagai respons atas situasi ini, sejumlah mahasiswa Hubungan Internasional President University mengadakan sebuah webinar berjudul “The Millennial Way in Tackling the Challenges of COVID-19”. Webinar ini menghadirkan berbagai ahli untuk memberikan pemaparan yang akurat mengenai isu ini Mereka adalah Dokter spesialis Pulmonologi dan Respiratori, dr. Nina Aspasi Harli Siregar, Sp.P., dan Tenaga Ahli dari MPR RI sekaligus pendiri Institute for Border Studies Millennial Think Tank, Harsen Roy Tampomuri.
 
“Sebagai mahasiswa, kami ingin menggunakan pengetahuan dan sumber daya yang ada dalam genggaman kami untuk mengedukasi, menginspirasi, dan yang terpenting menyatukan masyarakat untuk tidak putus harapan dan bersama melawan COVID-19,” ujar Matthew Tarigan, ketua pelaksana acara. Degan menyasar anak muda dalam webinar ini, Matthew mengungkapkan, “Kami sepenuhnya percaya bahwa anak muda memiliki pengaruh yang sangat besar, yang jika digunakan dengan bijak dapat membawa perubahan dan harapan bagi Indonesia di masa sulit ini.”

Dalam sesinya, dr. Nina mengungkapkan bahwa anak muda dengan mobilitas yang tinggi cenderung menjadi “asymptomatic carrier”, artinya karier virus yang tidak menunjukkan gejala. Untuk itu, anak muda memiliki kewajiban untuk menjaga kaum-kaum yang rentan terhadap virus ini, seperti misalnya orang tua dan anak-anak. “Karena kita berpotensi menjadi pembawa virus, kita harus menjaga kesehatan diri serta mempraktekkan perilaku hidup sehat agar keluarga dan orang-orang di sekitar kita aman,” ujarnya. Sebagai kaum yang akrab dengan internet, juga cenderung lebih aktif dan mudah mendapatkan informasi akurat melalui situs-situs terpercaya, kita wajib mengedukasi dan menjadi myth-buster, atau penangkal hoax dan infomasi-informasi yang tidak jelas asalnya.

Senada dengan dr. Nina, Harsen menyebutkan bahwa anak muda memainkan peranan penting dalam menghadapi tantangan-tanganan selama pandemi. Anak muda memiliki kemampuan untuk menjadi jembatan antar generasi sehingga gap antar generasi itu samar. “Di sini, anak muda bisa membantu generasi-generasi yang lebih tua atau kaum inklusif untuk mendapatkan informasi yang tepat mengenai COVID-19,” ujarnya. Selain itu, dengan memanfaatkan teknologi, anak muda juga dapat membuat lebih banyak bisnis kreatif yang memungkinkan pekerjanya bekerja dari rumah sehingga di tengah pandemi tetap produktif. 

Webinar ini merupakan bagian dari proyek mata kuliah Statespersonship di mana mahasiswa mengadakan kegiatan sosial setelah menyelesaikan empat kelas utama dalam mata kuliah tersebut, yaitu Pancasila, Bahasa Indonesia, Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan. (SL)