News

What's happening in PresUniv


Published: 09 Apr 2018

Cikarang, Indonesia—President University hosted Kazuo Sunaga, Ambassador Mission of Japan to ASEAN in a seminar titled “45th Annivesary of Japan-ASEAN Friendship and Cooperation” that was held in Charles Himawan Auditorium President University located in Jababeka Industrial Estate, Cikarang (5/4). Chairman of Jababeka Group and Founder of President University, S.D Darmono, Rector of President University, Dr. Jony O. Haryanto, S.E, MM., MA, along with rectorate members and approximately 400 students and lecturers came to the event.

Kazuo Sunaga talked about the history of Japan-ASEAN relationship and also Japan’s diplomacy toward ASEAN. Japan-ASEAN Ministerial Conference on Synthetic Rubber in 1977 marks the start of the cooperative relationship between both parties. Since then, Japan keeps maintaining cooperation with ASEAN in various aspects including building ASEAN Plus Three and the establishment of the Mission of Japan to ASEAN.

According to Kazuo, there are five principles of Japan’s ASEAN democracy which are: Protect and promote universal values, ensure a free and open seas cooperation with ASEAN member states, promote trade and investment, protect and nurture Asia’s diverse cultural heritages and traditions, and promote exchanges among the young generations.

Many ASEAN students come to Japan to study. Kazuo stated that Vietnam has the highest number of students in Japan among other ASEAN countries followed by Thailand.

“Japanese government is very welcome for more students from Indonesia,” said Kazuo.

Furthermore, S.D Darmono stated his view on Indonesian education. He hopes that many Indonesian students come to Japan to study, especially engineering field. He sees that if Indonesia wish to be a key player in ASEAN, Indonesia will need engineers to build the country.

“Indonesia is 12 times larger by size than Japan, yet the difference in industry and technology is very high. We need to build the country by developing technology and industry, that is why students need to start consider Japan as the main destination to study engineering and learn Japanese work and study ethic and discipline,” said S.D Darmono.


Cikarang, Indonesia — President University mengundang Kazuo Sunaga, Duta Besar Misi Jepang untuk ASEAN dalam sebuah seminar berjudul “45th Annivesary of Japan-ASEAN Friendship and Cooperation” yang diadakan di Charles Himawan Auditorium President University, berlokasi di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang (5/4). Direktur Jababeka Grup dan Pendiri President University, S.D Darmono, Rektor Universitas Presiden, Dr. Jony O. Haryanto, S.E, MM., MA, bersama dengan anggota rektorat dan sekitar 400 mahasiswa dan dosen turut hadir dalam acara tersebut.

Kazuo Sunaga berbicara tentang sejarah hubungan Jepang-ASEAN dan juga diplomasi Jepang terhadap ASEAN. Konferensi Tingkat Menteri Jepang-ASEAN tentang Karet Sintetis pada 1977 menandai dimulainya hubungan kerja sama antara kedua belah pihak. Sejak itu, Jepang terus menjaga kerjasama dengan ASEAN dalam berbagai aspek termasuk membangun ASEAN Plus Three dan membentuk Misi Jepang ke ASEAN.

Menurut Kazuo, ada lima prinsip demokrasi Jepang untuk ASEAN yaitu: Melindungi dan mempromosikan nilai-nilai universal, memastikan kerjasama laut bebas dan terbuka dengan negara-negara anggota ASEAN, mempromosikan perdagangan dan investasi, melindungi dan memelihara warisan budaya dan tradisi Asia yang beragam, dan mempromosikan pertukaran di antara generasi muda.

Banyak pelajar ASEAN datang ke Jepang untuk belajar. Kazuo menyatakan bahwa Vietnam memiliki jumlah siswa tertinggi di Jepang di antara negara-negara ASEAN lainnya yang diikuti oleh Thailand.

"Pemerintah Jepang sangat menyambut lebih banyak pelajar dari Indonesia," kata Kazuo.

Selanjutnya, S.D Darmono menyatakan pandangannya tentang pendidikan Indonesia. Ia berharap banyak pelajar Indonesia datang ke Jepang untuk belajar, terutama teknik. Dia melihat bahwa jika Indonesia ingin menjadi pemain kunci di ASEAN, Indonesia akan membutuhkan insinyur untuk membangun negara.

“Indonesia 12 kali lebih besar dari Jepang, tetapi perbedaan dalam industri dan teknologi sangat tinggi. Kita perlu membangun negara dengan mengembangkan teknologi dan industri, itulah sebabnya mengapa mahasiswa perlu mulai mempertimbangkan Jepang sebagai tujuan utama untuk belajar teknik dan belajar etika dan disiplin kerja, ”kata S.D Darmono.