News

What's happening in PresUniv


Published: 31 Aug 2017

President University, Cikarang - President University will host six foreign students from Zimbabwe, Vietnam, El Salvador, Senegal, Tajikistan, and Uganda, that participated in Darmasiswa program. This is a one-year scholarship programme for foreign students from various countries which have diplomatic relationships with Indonesia to study Bahasa Indonesia, art and culture. This programme is organized by the Ministry of Education and Culture (MoEC) in cooperation with the Ministry of Foreign Affairs (MoFA) and will start from September 4, 2017, until August 31, 2018.

One of the national cultures that will be introduced by President University is the Indonesian martial arts called Pencak Silat, one of the assets of Indonesian culture that has a very high historical and artistic value. Pencak Silat is also one of the elements of Indonesia's personality which come from its cultural heritage.

As one of the precious cultural heritage that Indonesia has, Pencak Silat has some important values. First, Pencak Silat has a spiritual element that teaches a personal self as a human being who believes in the higher power is the God. Second, Pencak Silat as an art, which is a skill for harmony and balance. In the culture of several ethnic in Indonesia, Pencak silat is also a part of the traditional ceremony. Randai dance from Minangkabau that usually displayed in the traditional events or celebrations in West Sumatera for example, using Silat as their dance moves.

In President University, Pencak Silat will be introduced as an art performance, not as a competition and it also accompanied by traditional music from West Java.

Dindin Dimyati, Head of Communication Study Programme in President University, who is also Silat activist with a role as a Head of Garis Paksi (Lembaga Pewarisan Pencak Silat in Bandung) explained that the socio-cultural situation in Indonesia at the present time has begun to be distracted by foreign cultures such as k-pop culture or Japanese culture that highly admired by the teenagers.

Furthermore, he explained that because of the cultural invasion, Indonesian people must fight on preserving the national culture. The development of media and technology could utilize by people to make the national culture could be well-known by the international world.

"I do hope that in the future, there will be more people from other countries that interested to learn Indonesian culture, with the principle of "Learn the root from the homeland" which means it is better to learn the culture directly from the source" said, Dindin. (YE)


President University, Cikarang – President University menjadi tuan rumah untuk enam mahasiswa asing dari berbagai negara (Zimbabwe, Vietnam, El Salvador, Senegal, Tajikistan, and Uganda) yang berpartisipasi dalam program Darmasiswa. Program beasiswa selama satu tahun untuk mahasiswa asing dari berbagai negara yang mempunyai hubungan diplomatik dengan Indonesia untuk belajar Bahasa, Seni dan Budaya. Program ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (MoEC) yang bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri (MoFA) dan akan dimulai dari tanggal 4 September, 2017 sampai dengan 31 Agustus, 2018.

Salah satu budaya nusantara yang akan di perkenalkan oleh President University adalah seni bela diri Pencak Silat, merupakan salah satu aset kebudayaan Indonesia yang mempunyai nilai sejarah dan seni yang sangat tinggi. Pencak Silat juga merupakan salah satu unsur-unsur kepribadian bangsa Indonesia yang dimiliki dari hasil budi daya yang turun temurun.

Disamping ajaran untuk bela diri, pencak silat juga mempunyai nilai-nilai penting yang terkandung didalamnya seperti;pertama, Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian, mengajarkan pengenalan diri pribadi sebagai mahluk hidup yang percaya adanya kekuasaan yang lebih tinggi yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, Pencak Silat sebagai seni, yang merupakan skill untuk keselarasan dan keseimbangan. Dalam budaya beberapa suku bangsa di Indonesia, pencak silat ternyata juga menjadi bagian dalam upacara adat. Tari Randai asal Minangkabau yang biasa ditampilkan dalam acara adat atau perayaan di Sumatera Barat menggunakan Silat sebagai bagian dari gerakan tari.

Tujuan utama dari pengenalan seni Pencak Silat ini kepada para mahasiswa asing adalah sebagai art performance bukan untuk pertandingan dan nantinya juga akan diiringi oleh musik khas dari daerah Jawa Barat.

Dindin Dimyati (Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi President University) yang juga seorang Silat aktivis sebagai Ketua dari Lembaga Pewarisan Pencak Silat di Bandung (Garis Paksi) menjelaskan bahwa melihat situasi sosial budaya di indonesia pada saat sekarang ini, budaya nasional sudah mulai teralihkan oleh budaya asing yang masuk seperti k-pop atau budaya jepang yang sangat digilai oleh para pemuda pada saat sekarang ini.

Ia menambahkan, dengan adanya invasi budaya, masyarakat Indonesia harus berjuang dalam melestarikan budaya nusantara. Perkembangan media dan teknologi yang sangat pesat bisa dimanfaatkan oleh masyarakat agar budaya nusantara lebih dikenal sampai ke dunia internasional.

“Saya berharap kedepannya akan lebih banyak masyarakat dari negara lain yang berminat untuk belajar kebudayaan Indonesia, dengan prinsip “learn the root from the homeland” yang berarti sebaiknya belajar budaya itu langsung berasal dari sumbernya” ungkap Dindin. (YE)