Published: 15 Jul 2020

Practicing social distancing in order to prevent COVID-19, working conditions in various offices or factories have changed. In the fourth edition of President University Webinar Series: Business Insights, Denny Makarim, Managing Partner of DHM Partners and lecturer of Management postgraduate program at President University, presented the material with a theme "Employment After COVID-19, Is It Fun?". He explained the employment relations and labor conditions that are happening in Indonesia.

He opened his session by explaining employment trends before the pandemic. First, he talked about the number of employees who are closely related to the pride of the owner of the company. "More employees, more pride. The level of satisfaction or pride will be even higher when the company has many employees," he said. The next trend is "one person, one skill", it is a condition where one employee is only required to have one special skill.

Focusing on the work effectiveness, the company trend before the pandemic was to make the most of the place. "With a limited amount of space, they really maximize the number of people and room layout settings," he said. He gave an example of a manufacturing company. As the product travel time from one production process to another is highly calculated, the tools/machines/production tables are placed close to one another so that the production process will be faster. He also gave an example of the current work layout of a company that utilizes one large room for many employees, with a desk without partition that saves space. Finally, he explained that leadership before the pandemic era was oriented to what was called micromanagement. Leaders closely monitor the work of every employee.

As pandemic is now happening and people starts practicing social distancing, the work environment is certainly changing. "The inevitable digital work environment will bring changes in monitoring methods," said Denny. "Instead of using process-oriented, the company will change its monitoring method to target-oriented. Then KPI (Key Performance Indicator) becomes something that is very important," he added. In the absence of face-to-face or direct supervision, high maturity is certainly needed from the employees to be able to work optimally without or with minimal supervision from superiors. Even so, Denny revealed that it cannot be denied, the company experiences a good thing as operational costs are reduced, such as electricity costs, business trips, and others.

Next, Denny explained the work trends after the pandemic which became a challenge for companies and workers, namely working hours. Flexible working hours due to work from home practice are often misinterpreted by companies as limitless hours. Of course, this is not ideal and an agreement needs to be made between the company and employees.

In facing the New Normal era, companies will certainly face various challenges, for example, the government that encourages companies to have a special team, or called the COVID-19 preventive task force at the company level. Additional facilities that adhere to the high health protocol also need to be considered. Denny advised the company to actively find out new regulations issued by various ministries.

Looking at the employee's side of the story, Denny pointed out an interesting finding that in the future, an individual would be expected to master a variety of skills. So we need to prepare ourselves now to be able to compete with machines, AI, and other employees. In addition, with a digital work environment, companies will prioritize workers who have analytical thinking, integrity, and a high level of maturity. In addition, the mastery of technology will be one of the important abilities that needs to be possessed by an employee. (SL)

 


 

Perusahaan Memerlukan Pekerja dengan Tingkat Kedewasaan yang Tinggi di Tengah Lingkungan Kerja Digital

 

Menerapkan social distancing dalam rangka pencegahan terhadap COVID-19, kondisi kerja di berbagai kantor atau pabrik mengalami perubahan. Dalam President University Webinar Series: Business Insights edisi yang keempat, Denny Makarim, Managing Partner DHM Partners sekaligus dosen dari program pascasarjana Manajemen President University membawakan materi dengan tema “Employment After COVID-19, Is It Fun?”. Ia memaparkan hubungan kerja dan kondisi ketenagakerjaan yang sedang terjadi di Indonesia.

Ia membuka sesinya dengan menjelaskan tren ketenagakerjaan sebelum pandemi. Pertama, ia bicara soal jumlah karyawan yang berkaitan erat dengan kebanggaan sang pemilik perusahaan. “More employees, more pride. Tingkat kepuasan atau kebanggaan akan semakin tinggi pada saat perusahaan memiliki banyak karyawan,” ujarnya. Tren selanjutnya adalah satu orang menguasai satu skill, di mana satu karyawan hanya dituntut untuk memiliki satu keahlian khusus.

Berorientasi pada keefektifan kerja, tren perusahaan sebelum pandemi adalah memanfaatkan tempat dengan sangat maksimal. “Dengan jumlah ruang yang terbatas, mereka benar-benar memaksimalkan jumlah orang dan pengaturan layout ruangan,” ujarnya. Ia memberikan contoh perusahaan manufaktur, di mana waktu perjalanan produk dari satu proses produksi ke proses lainnya sangat diperhitungkan. Sehingga alat/mesin/meja produksi diletakkan secara berdekatan satu sama lain. Ia juga memberi contoh layout kerja perusahaan masa kini yang memanfaatkan satu ruangan besar untuk banyak karyawan, dengan meja tanpa sekat yang menghemat tempat. Terakhir, ia memaparkan bahwa kepemimpinan di masa sebelum pandemi berorientasi pada apa yang disebut micro management. Para pemimpin mengawasi secara dekat pekerjaan setiap karyawan.

Dengan adanya pandemi yang berujung pada diberlakukannya social distancing, lingkungan kerja tentu berubah. “Lingkungan kerja digital yang tidak bisa dihindari akan membawa perubahan dalam metode pengawasan,” sebut Denny. “Daripada menggunakan process oriented, perusahaan akan merubah metode pengawasannya menjadi target oriented. Maka KPI menjadi sesuatu yang laris manis dan sangat penting,” tambahnya. Dengan tidak adanya pengawasan secara langsung, tentu dibutuhkan kedewasaan tinggi dari para pekerja untuk dapat bekerja dengan maksimal tanpa atau dengan pengawasan yang minim dari atasan. Meski begitu, Denny mengungkapkan bahwa tidak dapat dipungkiri, biaya operasional perusahaan jadi berkurang, seperti biaya listrik, perjalanan bisnis, dan lain-lain.

Selanjutnya, Denny menjelaskan tren kerja setelah pandemi yang menjadi tantangan bagi perusahaan dan para pekerja, yaitu jam kerja. Waktu kerja yang fleksibel akibat kerja di rumah sering disalahartikan perusahaan sebagai limitless hours atau waktu yang tanpa batas. Tentu, hal ini tidak ideal dan perlu disepakati bersama antara perusahaan dan pekerja.

Dalam menghadapi era New Normal, perusahaan tentu akan menghadapi berbagai tantangan, misalnya pemerintah yang menggalakkan perusahaan untuk memiliki tim khusus, atau disebut gugus tugas pencegahan COVID-19 di tingkat perusahaan. Fasilitas-fasilitas tambahan yang mematuhi protokol kesehatan tinggi juga perlu dipertimbangkan. Denny menyarankan perusahaan untuk secara aktif mencari tahu peraturan-peraturan baru yang dikeluarkan dari berbagai kementerian.

Dari sisi pekerja, Denny menyebutkan hal menarik bahwa ke depan, satu orang diharapkan menguasai berbagai keahlian. Sehingga kita perlu mempersiapkan diri sejak sekarang untuk dapat bersaing dengan mesin, AI, dan pekerja-pekerja yang lain. Selain itu, dengan lingkungan kerja digital, perusahaan akan lebih mengutamakan pekerja yang memiliki analytical thinking, integritas, dan level kedewasaan yang tinggi. Selain itu, penguasaan teknologi akan menjadi salah satu kemampuan penting yang dimiliki seorang pekerja. (SL)