Published: 15 Jul 2020

In the middle of uncertain situation, business ethics sometimes is forgotten. Lecturer of Master of Business Administration (MBA) in Technology di President University, Lamhot Henry Pasaribu presented material with the topic “Why Good Managers Make Bad Ethical Choices” at the President University Webinar Series: Business Insights last week (6/26).

In the webinar, Lamhot described how business ethics are important as we also do our responsibility to fulfill the company’s target. “It is possible for marketers to do good and still do well. It is supported by the research from Nielsen Global Survey in August 2013 that mentioned about 50% of customers are willing to pay more for goods and services from companies that have implemented programs to give back to society,” he said. In short, business ethics is closely related to the norms practiced in society. For that reason, managers have a responsibility to pay attention to business ethics In executing business strategy.

However, in reality, managers usually prioritize profit when it comes to morality. Lamhot mentioned a code of ethics that serves as public window dressing is not exactly the same as the ethical standards that are embraced by the company’s actual strategy and business operation.

Although knowing that business ethics is highly important, why do good managers make bad ethical choices?

Summarizing research conducted by the experts, Lamhot explained that there are 4 rationalizations to answer the questions above, that he thought it was also reasonable and he experienced as a professional. The first one is believing that the activity is not really illegal or immoral, with the reason of maximizing profits. “Companies are reminded to understand that maximizing profits is not the top priority. It is the company’s second priority. The first priority is ensuring its survival,” he said.

The second rationalization is that managers feel that the activity is to reach the corporation’s best interest. However, it is usually wrapped in the individual’s ambition or the will to make the direct supervisor happy. The third rationalization is the fact that the predecessor or somebody else in the company did the same thing. The next fault is when a trespass is detected, the company handles it in secret. A manager should announce the misconduct and show how the employee involved is punished. The last rationalization is the thought that because it was done for the company’s interest, so the company will let it go.

In the end, top management should endorse the practice of good business ethics in all company’s activities. Executives have a right to expect loyalty from the employees but not loyalty against the law or loyalty against norms of the society itself. (SL)

 


 

Mengapa Pemimpin yang Baik Dapat Membuat Keputusan yang Tidak Sesuai dengan Etika Bisnis?

 

Di tengah keadaan yang sulit dan tidak menentu, etika bisnis seringkali dilupakan. Dosen Master of Business Administration (MBA) in Technology di President University, Lamhot Henry Pasaribu hadir dalam President University Webinar Series: Business Insights dan membawakan materi berjudul “Why Good Managers Make Bad Ethical Choices” pekan lalu (26/6).

Dalam kesempatan ini, Lamhot memaparkan bagaimana etika bisnis itu penting sembari kita juga menjalankan kewajiban untuk memenuhi target yang ditentukan oleh perusahaan. “Adalah mungkin untuk pelaku bisnis atau pemasar untuk berbuat baik, namun tetap berkinerja baik. Hal tersebut didukung dengan penemuan yang dipaparkan oleh Nielsen Global Survey pada Agustus 2013 yang mengatakan bahwa 50% konsumen itu bersedia untuk membayar lebih untuk barang dan jasa dari perusahaan yang telah mengimplementasikan program-program yang memberikan manfaat kembali kepada masyarakat,” ujarnya. Pada dasarnya etika bisnis berkaitan erat dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Untuk itu, manajer perusahaan memiliki kewajiban untuk memperhatikan etika bisnis dalam mekesekusi strategi bisnis.

Namun, dalam kenyataannya, pimpinan/manajer perusahaan kerap kali memprioritaskan profit ketika profit harus diperhadapkan dengan moralitas. Lamhot menyebutkan, kode etik yang digunakan untuk window dressing acapkali tidak sama persis dengan standar etika yang merupakan rujukan bagi perusahaan untuk melaksanakan strategi aktual dan dalam perilaku bisnisnya. 

Meski menyadari pentingnya etika bisnis, mengapa masih ada manajer perusahaan yang membuat keputusan etika yang salah?

Merangkum penelitian-penelitian yang ada, Lamhot memaparkan ada empat alasan atau rasionalisasi yang menurutnya relevan dan juga ia hadapi dalam pengalamannya berkarir selama 20 tahun lebih sebagai profesional. Yang pertama, mempercayai bahwa tindakan yang dilakukan itu tidak benar-benar ilegal atau tidak bermoral, dengan alasan memaksimalkan keuntungan. “Kita diingatkan bahwa perusahaan harus menyadari bahwa maksimasi keuntungan bukanlah prioritas utama, Profit adalah prioritas kedua. Prioritas pertama adalah memastikan kelangsungan hidup daripada perusahaan itu,” ujarnya.

Rasionalisasi yang kedua adalah manajer merasa apa yang dilakukan itu untuk kepentingan perusahaan. Namun, biasanya keputusan ini dibungkus dalam ambisi pribadi atau ambisi untuk menyenangkan atasannya. Rasionalisasi yang ketiga adalah fakta bahwa pendahulunya atau orang lain di perusahaan itu pernah melakukan praktik serupa sebelumnya. Kesalahan selanjutnya adalah ketika terjadi pelanggaran, perusahaan menanganinya secara diam-diam. Seorang manajer harus menangani pelanggaran secara terbuka dan mengumumkan bagaimana hukuman diberikan. Rasionalisasi yang terakhir adalah pemikiran bahwa karena dilakukan untuk kepentingan perusahaan, maka perusahaan akan meloloskannya.

Pada akhirnya, perlu keputusan tegas dari top management perusahaan untuk mendorong budaya bekerja sesuai etika bisnis yang benar. Pimpinan perusahaan berhak untuk mengharapkan loyalitas dari karyawan, namun bukan loyalitas melawan hukum atau norma atau masyarakat. (SL)