Profil


Tanggal Post: 02 Jul 2021

Abdul Wahid Maktub
Staf Khusus Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (2015-2021)
Duta Besar RI untuk Qatar (2003-2007)
(Bagian ke-2 dari 3 Tulisan)

 

ARAB SAUDI BELUM MELIHAT INDONESIA SECARA UTUH

Usai menuntaskan tugasnya sebagai staf khusus Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Abdul Wahid Maktub mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Ia menjadi penasehat untuk President University (PresUniv). Gus Wahid, begitu ia disapa, melihat pendidikan di Indonesia perlu melakukan lompatan untuk mengejar ketertinggalannya. Itu membuat dirinya merasa perlu terjun di dunia pendidikan. Untuk mengenal lebih jauh sosok Gus Wahid, tim Public Relation menemuinya untuk sebuah wawancara. Petikannya.

 

Anda kuliah di Jurusan Hubungan Internasional. Apa memang bercita-cita menjadi diplomat?

Enggak. Di Madura itu biasanya anak-anak muda hanya sekolah sampai SMA. Setelah itu tidak melanjutkan sekolahnya. Saya, karena masuk dalam rangking tiga besar, dapat tawaran beasiswa dari mana-mana. Saya dapat beasiswa dari Universitas Kristen Petra, Surabaya, untuk jurusan bahasa Inggris. Kebetulan sejak SMA kelas II, saya memang sudah mengajar bahasa Inggris.

Ketika diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM), saya harus memilih. Saya pilih UGM. Ketika kuliah saya pun belum tahu mau jadi apa kelak. Saya hanya ikut arahan kakak. Ketika itu kebetulan kakak tahu bahwa paman saya juga kuliah di jurusan Hubungan Internasional di UGM, dan bekerja di Departemen Luar Negeri. Maka, kakak arahkan saya kuliah di jurusan yang sama.

Setelah lulus dari UGM, saya diminta memimpin pondok pesantren. Kebetulan kakek memang punya pesantren.  Tapi, saya minta izin untuk memilih pergi ke Batam, karena di sana ada proyek Pak BJ Habibie (Presiden ke-3, RI). Saya menjadi contact administrator. Selama di Batam, saya berinteraksi dengan banyak perusahaan besar dan para kontraktor. Saya belajar project management dari mereka, termasuk cara-cara berdiplomasi dan menyampaikan pendapat. Selama bekerja di Batam saya jadi tahu bagaimana membuat perencanaan proyek-proyek besar dengan segala kompleksitasnya, termasuk cara mengatasi konflik. Itu mungkin membuat Pak Habibie jatuh cinta pada saya…. hahaha.

 

Anda dari jurusan Hubungan International, tetapi belajar otodidak tentang project management. Itu sesuatu yang sangat berbeda, bukan?

Betul. Ilmu project management saya pelajari dari lapangan. Para project manager, setiap ada masalah, selalu minta bantuan saya. Dan, saya bisa menyelesaikan. Padahal, saya bukan insinyur. Di sana saya membantu menjembatani perbedaan persepsi dalam membuat laporan proyek, membuat minute of meeting dan sebagainya.  Dari situ pengetahuan saya semakin berkembang. Apalagi saya banyak bergaul dengan lingkungan internasional.

Suatu ketika saya diminta kembali ke Jakarta untuk membantu pembangunan landas pacu bandara. Namun, pada tahun 1998, terjadi reformasi. Saya pun bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan Gus Dur. Beliau kemudian tahu bahwa saya lulusan Hubungan Internasional, sehingga diminta mengurus “departemen luar negeri”-nya PKB. Oleh karena saya menangani urusan luar negeri, ketika Gus Dur menerima undangan dari berbagai negara, seperti ke Amerika, Eropa, China, Australia, dan beliau tidak bisa hadir, saya pun ditunjuk untuk mewakili.

Lalu, di luar dugaan, Gus Dur terpilih menjadi Presiden ke-4 RI. Saya kena imbasnya. Itu tadi, saya kemudian diminta menjadi Konjen RI di Jeddah, Arab Saudi. Ini konjen yang strategis.

 

Wisma Konjen RI di Jeddah.
Sumber: viva.co.id.

 

Apa strategisnya?

Di Jeddah ada atase haji. Satu-satunya konsulat jenderal yang ada atase hajinya ya cuma di Jeddah, meski ada juga atase pendidikan, ketenagakerjaan. Lengkap. Di Jeddah, Konjen RI posisinya setingkat duta besar.

Sementara, Dubes RI berkantor ada di Riyadh dan dijabat Pak Baharudin Lopa (alm.), yang kemudian diganti Pak Maftuh Basyuni. Setelah Konjen RI, saya kemudian ditunjuk menjadi Dubes RI untuk Qatar. Ini negeri terkaya di dunia.

 

Apa tantangan terbesar sewaktu menjadi Konjen di Jeddah?

Warga negara Indonesia di sana itu sekitar satu juta, dan sebagian besar Tenaga Kerja Wanita (TKW). Dan, sebagian besar TKW kita uneducated. Jadi, posisinya lemah. Banyak kasus TKW yang gajinya tidak dibayar dan bekerja berlebihan. Selama memimpin Konjen RI di Jeddah, saya memberikan penyadaran bahwa kalau kita ingin berubah, itu semua tergantung kita. Kami berikan juga pendidikan dan pendampingan.

Di luar itu, saya buka jalur-jalur diplokasi formal dan informal. Selama ini kita sibuk dengan jalur formal. Lobinya government to government (G2G), baik secara bilateral maupun multilateral. Padahal, bisa juga pakai jalur lain. Misalnya, pakai jalur International Labour Organization (ILO) atau Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Selama menjadi Konjen di Jeddah, semua akses informasi saya buka. Kami juga lakukan empowering melalui empat aspek. Pertama, aspek struktural. Regulasi kami perbaiki sehingga lebih jelas. Kedua, aspek kultural. Budaya Arab dengan Indonesia kadang berbeda. Maka, harus dijelaskan apa yang boleh dan yang tidak boleh. Ketiga, aspek intelektual. Setiap bulan kami adakan pertemuan, sosialisasi, mana yang berbahaya dan yang tidak. Keempat, aspek spiritual, yakni dengan doa. Semua kami lakukan secara pararel. Dengan cara begitu terjadi banyak perubahan. Misalnya, para pejabat di Arab Saudi yang semula tidak mau peduli, kini jadi membela TKW kita. Itu karena mereka tahu bahwa kita sudah lakukan pembenahan. Jadi, semua dimulai dari diri kita sendiri.

 

Bagaimana Anda mengurus haji Indonesia?

Haji dari Indonesia itu terbesar di dunia. Setiap tahun tidak kurang 250.000 orang. Itu yang resmi. Belum yang tidak resmi. Jadi, luar biasa sibuknya. Haji Indonesia mendapat pujian sebagai haji yang paling tertib. Manajemennya paling canggih. Saya berkali-kali diundang untuk mendapatkan apresiasi. Ini luar biasa.

 

Jemaah haji Indonesia: Lebih tertib ketimbang Jemaah haji dari negara lain.
Sumber: https://kabar24.bisnis.com/

 

Apa yang membuat haji Indonesia lebih tertib dibandingkan dengan haji dari negara lain?

Haji dari negara lain karena jumlahnya hanya beberapa ribu, negaranya tidak terlalu ikut mengatur. Sementara, haji dari Indonesia jumlahnya banyak, 250.000-an per tahun, maka harus diatur. Mulai dari waktunya, penempatannya, kesehatannya, penginapannya, keberangkatan hingga kepulangan, dan sebagainya. Masalahnya lebih kompleks, tetapi bisa kami kelola dengan baik. Jadi, kalau di dalam negeri masih banyak kritik soal pengelolaan haji, tapi di luar negeri, misalnya dalam pertemuan haji dunia, OKI, dan sebagainya, mereka memuji kita. Bahkan pihak pemerintah Arab Saudi pun selalu memberikan apresiasi terhadap tata kelola haji kita.

 

Kalau bicara sebagai bangsa, apa yang bisa kita pelajari dari Arab Saudi, dan sebaliknya?

Arab Saudi belum melihat Indonesia secara utuh. Mereka tahu Indonesia hanya dari TKW atau haji. Hanya itu. Mungkin sekarang ini saatnya kita memberikan informasi yang lengkap tentang Indonesia. (JB Susetiyo, Gilang Suryanata, Lita Gabriela, dan Silvia Desi Betrice, tim PR)