News

What's happening in PresUniv


Published: 14 Feb 2018

Cikarang, Indonesia—Indonesia is a multicultural country which has diverse culture. Aside of its nature’s beauty, this diversity is also become one of main attractions for foreigners to visit Indonesia. This is also felt by Moreblessings Mapolisa from Zimbabwe, Southern Africa when she first came to Indonesia. Mobie, that is the way she called, is one of Darmasiswa scholarship program participants who is currently studying bahasa Indonesia for a year in President University.

Mobie is an only female child and has two brothers. She and her family live in the suburban of Gweru, the third largest city in Zimbabwe. She admired her mom who is hard working and always find a way to be successful and also Bill Gates as he came from a poor background and managed to work hard and become one of the richest men in the world.

“I have not travelled much in my life and even in my travelling, I have only been to local or neighboring countries like South Africa, Botswana and Zambia but however these countries are almost the same when it comes to tradition and culture. However Indonesia was different in so many ways that I could have never imagined,” said Mobie.

Indonesia has more than 260 million people from various cultures and different languages, but they all respect one another despite their different ethnicities and also respect their various traditions.

“Most countries nowadays have no respect of their cultures and are more of adopting Western culture or the American culture. Indonesians however have a certain respect for their culture and integrate their culture with everything they do in their modern day,” said Mobie.

Mobie adored how the Indonesian people have managed to make superior their language over any other foreign language. According to most studies, English is the second most spoken language in the whole world after mandarin, and this shows how most of the world’s populations have prioritized English over their own vernacular languages. But for her, that is not the case with Indonesia because the people prioritize their own local languages more than English and that is a sign of independability as it shows the full sovereignty and self-reliance as a nation.

“Frankly, I felt jealous about all the beautiful and amazing things I saw in Indonesian people and wished if my own country could be able to have such cultural and tradition perseverance. I was really impressed about how Indonesia upholds its traditions and its moral laws especially in such a day and age where people do not care about morality,” stated Mobie.

She admitted that she was not prepared at all to see all the good things she saw in Indonesia. She imagined Indonesia as an underdeveloped country and boring people because she had never heard anything about the country at all, but when she got here, she was really amazed at how good and well developed the country was, and how delightful the people were too.

Being asked about differences in education, she noticed that lecturers here are close with the students.

“Students are free to talk to their lecturers, in my country we don’t have that. But things are different here, which is good because students are supposed to be free when it comes to talking to a lecturer. That is the good thing about President University education system and i like it so much,” admit Mobie.


Cikarang, Indonesia—Indonesia merupakan negara multikultur dengan kebudayaan yang sangat beragam. Disamping keindahan alamnya, keberagaman ini menjadi salah satu daya tarik bagi warga negara lain untuk berkunjung ke Indonesia. Hal ini juga dirasakan oleh Moreblessings Mapolisa yang berasal dari Zimbabwe, Afrika bagian Selatan ketika pertama kali datang ke Indonesia. Mobie, begitu sapaan akrabnya, merupakan salah satu peserta program beasiswa Darmasiswa yang kini tengah mempelajari bahasa Indonesia di President University selama satu tahun.

Mobie merupakan satu-satunya anak perempuan dan mempunyai dua orang saudara. Dia dan keluarganya tinggal di pinggir kota Gweru, kota terbesar ketiga di Zimbabwe. Dia mengagumi ibunya yang seorang pekerja keras serta selalu bisa menemukan jalan kesuksesan, dan ia juga mengagumi Bill Gates yang mana berangkat dari keluarga yang kurang beruntung dan dengan bekerja keras dia dapat menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

“Saya tidak terlalu sering bepergian dalam hidup saya dan saya hanya pernah pergi ke tempat domestik atau negara-negara tetangga seperti Afrika Selatan, Botswana, dan Zambia, tetapi negara-negara ini hampir sama dalam hal tradisi dan budaya. Namun Indonesia berbeda dalam banyak hal yang bahkan tidak pernah saya bayangkan,” ucap Mobie.

Indonesia mempunyai lebih 260 juta penduduk dari berbagai kebudayaan dan bahasa yang berbeda, tetapi mereka saling menghormati satu sama lain terlepas dari perbedaan etnik dan juga tradisi yang berbeda-beda.

“Kebanyakan negara pada saat ini tidak menghormati kebudayaannya dan lebih banyak mengadopsi kebudayaan barat atau budaya Amerika. Orang Indonesia mempunyai rasa hormat pada budayanya dan mengintegrasikan kebudayaan mereka dengan segala yang mereka lakukan di jaman modern ini,” ungkap Mobie.

Mobie mengagumi bagaimana orang Indonesia berhasil menjadikan bahasa mereka lebih unggul dibanding bahasa asing lainnya. Menurut beberapa studi, bahasa Inggris merupakan bahasa kedua terbanyak dipakai setelah Mandarin, dan ini menunjukan bagaimana kebanyakan populasi dunia telah memprioritaskan bahasa Inggris dibanding bahasa daerah mereka. Tetapi bagi Mobie, hal itu bukanlah sebuah perkara di Indonesia karena masyarakatnya memprioritaskan bahasa lokal lebih dari bahasa Inggris dan hal itu menjadi tanda ketidaktergantungan sebagaimana hal itu menunjukan kedaulatan yang penuh dan kemandirian sebagai sebuah bangsa.

“Sejujurnya saya iri dengan semua keindahan dan hal-hal menakjubkan yang saya lihat di Indonesia, dan saya berharap negara saya pun dapat mempunyai budaya dan tradisi yang terjaga. Saya sangat kagum akan masyarakat Indonesia yang menjunjung tradisi dan moral khususnya di zaman sekarang dimana orang tidak peduli terhadap moral,” pungkas Mobie.

Dia mengaku bahwa ia sama sekali tidak menyangka untuk melihat hal-hal yang menarik di Indonesia. Dia membayangkan Indonesia sebagai negara tidak berkembang dengan orang-orang yang membosankan karena ia tidak pernah mendengar apapun tentang negara ini sama sekali, tetapi ketika ia datang kemari, ia sangat terpukau dengan betapa bagus perkembangan Indonesia dan bagaimana menyenangkannya masyarakat Indoneia.

Ditanya mengenai perbedaan dalam pendidikan, ia melihat bahwa dosen disini dekat dengan para muridnya.

“Mahasiswa bebas untuk berbicara dengan dosennya, di negara saya kami tidak punya hal seperti itu. Tetapi berbagai hal berbeda disini, dan itu bagus karena mahasiswa seharusnya bebas untuk berbicara dengan dosen. Hal ini merupakan hal yang baik yang saya temukan di sistem pendidikan President University dan saya sangat menyukainya,”ungkap Mobie.