News

What's happening in PresUniv


Published: 08 Sep 2017

Cikarang, Indonesia—President University hosts His Excellency Ambassador Moazzam Malik, the British Ambassador to Indonesia, ASEAN, and Timor Leste in the open lecture themed "UK-Indonesia Relations Post Brexit" that was held in Charles Himawan Auditorium (6/9). The event attended by Teuku Rezasyah, Ph.D, Dean of School of Humanities President University, Hendra Manurung, S.IP, MA., Head of International Relations Study Program President University, Dindin Dimyati, S.Sos.,M.M., Head of Communication Study Program President University, Marissa Astika, B.Sc., MBA., Director for International Partnerships President University, lecturers, and approximately 263 students are coming to the event. This event is a series of Ambassadorial Lectures organized by President University Major Association of International Relations which is held once a month.

The event was opened by remarks from Teuku Rezasyah followed by the main lecture from His Excellency Moazzam Malik. Moazzam sees that Indonesia is a country with an enormous role in the future. He delivered three critical areas to unlock Indonesia’s potential; Infrastructure, Economic Regulations, and Education.

According to him, to connect the big population spread in many islands in its country, Indonesia need to invest in the infrastructures.

“It cannot be done by solely using tax to finance that, Indonesia needs to attracts private and international finance. The United Kingdom (UK) has long track record on the public-private partnership and already invested in hundreds of projects. The collaboration UK-Indonesia public partnership can help bring those models to Indonesia”, said Moazzam.

Furthermore, Malik said that the economic regulations in Indonesia need to be fixed to support the business climate, to facilitate the creation of jobs, investments, and also Indonesia’s progress as a rising economy. However, despite of the enormous resources that Indonesia currently has, the competitiveness in the 21st century is depend on the quality of education and the talent of the people.

“I believe that we can work a lot together on this area. There are great universities in Indonesia, President University is a young university which emerging very fast, and there are older ones. But up to today, not one Indonesia’s university has entered the list of the world best 400. That is a problem when the long run competitiveness depends on the education and it is a big challenge. Education is one of the areas where the UK excel, so our invitation to Indonesia is send your brightest and your best people to study in the best universities in the world. The numbers of Indonesian students in the UK are growing, and the UK is adding 3 times allocation for its scholarships to facilitate more Indonesian to study in the UK”, explained Moazzam.

Last year UK voted to exit the European Union and well known as Brexit. Fundamentally, it was a hard fought debates but also a democratic one. The British decided by the vote wishing to see a better future for UK outside the European Union, and that was a fundamentally political choice not an economic choice which is believed that the UK should not be submerged of the entity of the European Union, but should have an independent political future.

The numbers of students asking questions show their high enthusiasm to the event. There are two Question and Answer sessions and followed by photo session which closed the event.

“His Excellency Moazzam Malik’s lecture inspired students to understand more on U.K pro-active engagement in Indonesia, Middle East regions, Western Asian countries, and the European Union (E.U). Also how U.K Public Diplomacy involve actively into Indonesian society through beneficial cultural exchange, higher education, English language, sustainable pluralism and tolerance society. He also mentioned that President University with their students can achieve higher quality of human resources through better education, global mindset, never give-up, do travelling and visiting other countries a lot in order to have better understanding on different culture and people uniqueness. It is connected with President University Nine Core Values (Passion, Responsibility, Entrepreneurial Spirit, Sincerity, Inclusiveness, Dedication, Excellence, Nationalism, and Trendsetter)”, said Hendra. (SL)


Cikarang, Indonesia—President University menjamu Yang Terhormat Moazzam Malik, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Lester dalam acara kuliah terbuka yang bertema “Hubungan Inggris-Indonesia Pasca Brexit” yang bertempat di Charles Himawan Auditorium (6/9). Acara tersebut di hadiri oleh Teuku Rezasyah, Ph.D, Dekan Fakultas Humaniora President University, Hendra Manurung, S.IP, MA., Kepala Program Studi Hubungan Internasional President University, Dindin Dimyati, S.Sos.,M.M., Kepala Program Studi Komunikasi President University, Marissa Astika, B.Sc., MBA., Direktur Kerja Sama Luar Negeri President University, Dosen, dan sekitar 263 mahasiswa datang di acara ini. Acara ini merupakan seri dari kuliah umum dari para duta besar yang diselenggarakan oleh President University Major Association of International Relations satu bulan sekali.

Acara dibuka oleh sambutan dari Teuku Rezasyah dan dilanjutkan dengan kuliah utama dari Yang Terhormat Moazzam Malik. Ia melihat bahwa Indonesia merupakan sebuah negara dengan peran yang banyak di masa depan. Ia menyampaikan tiga area penting untuk membuka potensi Indonesia, yaitu Infrastruktur, Peraturan Ekonomi, dan Pendidikan.

Menurutnya, untuk menghubungkan populasi yang besar dan tersebar di banyak pulau di Indonesia, diperlukan investasi pada insfrastruktur.

“Hal itu tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan dana pajak, Indonesia harus menarik investor swasta dan asing untuk turut mendanai ini. Inggris mempunyai sepak terjang yang panjang dalam hal kerja sama publik-swasta dan telah berinvestasi dalam ratusan proyek. Kolaborasi kerja sama publik antara Inggris dan Indonesia dapat membantu membawa contoh tersebut ke Indonesia”, Tutur Moazzam.

Selanjutnya, Malik mengatakan bahwa peraturan ekonomi di Indonesia juga perlu dibenahi untuk menunjang iklim bisnis, memfasilitasi terciptanya lapangan pekerjaan, investasi, dan juga progres Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru. Namun, terlepas dari berlimpahnya sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, daya saing di abad 21 ini tergantung pada kualitas penidikan dan talenta yang dimiliki warga Indonesia.

“Saya percaya bahwa kira dapat banyak bekerja bersama di area ini. Ada banyak universitas di Indonesia, President University adalah universitas yang masih muda yang dikenal dengan cepat, dan ada pula universitas yang lebih tua. Tetapi sampai saat ini tidak ada universitas di Indonesia yang masuk dalam daftar 400 universitas terbaik di dunia. Hal ini merupakan sebuah masalah ketika daya saing jangka panjang tergantung pada pendidikan dan itu adalah sebuah tantangan. Pendidikan merupakan salah sati area dimana Inggris unggul, jadi undagan kami kepada Indonesia adalah untuk mengirim orang-orang terbaik untuk bekajar di universitas-universitas terbaik di dunia. Jumlah pelajar Indonesia di Inggris terus bertambah, dan Inggris pun menambah tiga kali lipat jumlah alokasi anggaran beasiswa untuk memfasilitasi lebih banyak pelajar Indonesia bersekolah di Inggris”, Jelas Moazzam.

Tahun lalu, Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa dan dikenal sebagai Brexit. Pada dasarnya hal itu merupakan perdebatan yang sulit namun demokratis. Rakyat Inggris memutuskan hal tersebut dengan harapan untuk melihat masa depan yang lebih baik bagi Inggris diluar Uni Eropa, dan pada dasarnya merupakan keputusan politis, bukan ekonomis yang dengan kepeceryaan bahwa Inggris tidak seharusnya tenggelam dalam Uni Eropa, namun seharusnya mempunyai masa depan politik yang mandiri.

Jumlah mahasiswa yang bertanya menunjukan antuasisme yang tinggi dalam acara ini. Tedapat dua sesi tanya jawab dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama yang kemudian menutup acara ini.

“Yang terhormat Moazzam Malik sangat menginspirasi mahasiswa untuk memahami lebih jauh tentang keterlibatan Inggris yang proaktif di Indonesia, Timur Tengah, Asia Barat, dan Uni Eropa. Juga bagaimana diplomasi publik terlibat dalam masyarakat Indonesia melalui pertukaran budaya yang bermanfaat, perguruan tinggi, Bahasa Inggris, pluralisme berkelanjutan, dan masyarakat yang betoleransi. Ia juga menyebutkan bahwa President University dengan mahasiswanya bisa meraih kualitas sumber daya yang lebih tinggi melalui pendidikan yang lebih baik, pemikiran global, pantang menyerah, dan mengunjungi negara lain untuk mendapat pemahaman yang lebih baik mengenai keberagaman budaya dan keunikan masyarakatnya. Hal itu juga terkait dengan President University Nine Core Values (Passion, Responsibility, Entrepreneurial Spirit, Sincerity, Inclusiveness, Dedication, Excellence, Nationalism, and Trendsetter)”, Ujar Hendra. (SL)