News

What's happening in PresUniv


Published: 01 Aug 2017

Bekasi, Indonesia – The increase of hoax news dissemination in the ‘tsunami era’ of information are very apprehensive. On top of that, the high number of people who are not yet able to criticize an information can give more chances to hoax dissemination. Being aware of this, Communication Study Programme in President University is moved to give education to the public through a media literacy campaign in various schools in Bekasi and its surroundings.

“The aim of this media literacy education is not only to contribute in producing a smarter and more critical society, but also to equip them with the ability to make a judgement on media content and finally able to differentiate good media from the bad,” said Stefi Landra, one of the Education Team Leader at SMKN 1 Cikarang Barat (27/7).

In the classroom, Stefi encourages the students to be a news consumers who are actively check the truth of the disseminated news.

“We have to be critical when we find news with provocative headline and content because this is not align with the journalistic code of conduct and ethics.”

According to her, an issue that involves public interests will always be a news in various national media, therefore public should be able to judge the quality of the reported news from a media.

“Do some re-check (comparison) on the news to other media who have good reputation and even verifed by the Press Council,” said Stefi.

This media literacy education activity is one of many college assignments in President University that involves many students and lecturers. The Head of Communication Study Programme, Dindin Dimyati, explained that the academicians in Commucation Studies are responsible to do media literacy education.

“Since the beginning of July, the educators have assigned the students to deliver knowledge of the impact and the application of the theory of mass communication that they have studied in the class. Issues on medial iteracy has become a social responsibilty for all the academicians, ergo we are actively educating the society about media literacy so they will not easily believe any bombastic news and start to critized the media content that they are consuming,” said Dindin. 

In a month, the students in divided groups, give education to more than 200 students in SMA Mardi Waluya Cibinong, SMAN 2 Cikarang Pusat, SMKN 1 Cikarang Barat, and SMPN 1 Cikarang Utara.


Bekasi – Meningkatnya penyebaran berita hoax di era tsunami informasi sangat memprihatinkan. Masih banyaknya masyarakat yang belum mampu mengkritisi informasi dinilai dapat menjadi peluang penyebaran hoax. Hal ini yang melatarbelakangi kegiatan Program Studi Ilmu Komunikasi President University untuk memberikan edukasi kepada masyarakat melalui kegiatan kampanye literasi media di berbagai sekolah di wilayah Bekasi dan sekitarnya.

“Tujuan pendidikan literasi media ini kami harapkan dapat menghasilkan masyarakat yang cerdas dan kritis, serta mampu membuat penilaian terhadap konten media hingga akhirnya mampu membedakan mana media yang baik dan buruk,” kata Stefi Landra, salah satu mahasiswi yang menjadi ketua tim edukasi di SMK 1 Cikarang Barat (27/7).

Di dalam kelas, Stefi mengajak para siswa untuk menjadi konsumen berita yang aktif memeriksa kebenaran informasi yang diberitakan.

“Kita harus kritis apabila menemukan berita dengan judul dan isi yang bernada provokatif karena hal ini tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik.”

Menurutnya, isu yang besar dan menyangkut kepentingan masyarakat luas pasti akan menjadi berita di berbagai media nasional sehingga masyarakat dapat menilai bagaimana kualitas pemberitaan di sebuah media.

“Cek kembali berita tersebut di media lain yang punya reputasi baik dan bahkan yang terverifikasi Dewan Pers,” pungkas Stefi.

Kegiatan edukasi literasi media ini merupakan bagian dari tugas kuliah di President University yang melibatkan puluhan mahasiswa dan sejumlah dosen pendamping. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, Dindin Dimyati menuturkan bahwa pendidikan literasi media menjadi tanggung jawab para akademisi di bidang ilmu komunikasi.

“Sejak awal bulan Juli, tim pengajar menugaskan para mahasiswa untuk memberikan pengetahuan dan pengenalan dampak serta aplikasi teori komunikasi massa yang mahasiswa pelajari di kelas. Isu literasi media ini menjadi tanggung jawab sosial para akademisi. Karena itu kami aktif mengedukasi masyarakat tentang literasi media sehingga masyarakat tidak mudah percaya berita yang bombastis dan mulai aktif mengkritisi konten media yang mereka konsumsi,” tutur Dindin.

Dalam satu bulan para mahasiswa secara berkelompok memberikan edukasi kepada lebih dari 200 siswa di SMA Mardi Waluya Cibinong, SMAN 2 Cikarang Pusat, SMK 1 Cikarang Barat, dan SMP 1 Cikarang Utara.

 

By: Mohammad Shihab, Lecturer of Communication Study Programme