News

What's happening in PresUniv


Published: 27 Nov 2018

Cikarang, November 22, 2018 - President University, one of international scale universities held a national scientific conference in the field of communication science in Charles Himawan Auditorium, President University. 17 universities in Indonesia, both private and state university, took part to present and explain ideas through presentation which divided into several sessions.

Crisis communication is a trending topic which presented by communication students. According to the analysis of public relations, companies often experiencing a communication crisis in the era of digital challenges that affect the company's production. Image and reputation are aspects that need to be maintained by a public relation to continue increasing consumer confidence.

The problem is that the company often fails and slips when carrying out a brand image process simply because of the fatal internal errors such as falsifying integrity in public and accidentally cornering some potential customers with offense and some companies that create press meetings just for inconsistent clarification.

"Building a reputation takes a long time, but it can be damaged with only a short time." Concluded several students and practitioners when describing the thoughts and perspectives supported by references partly sourced from BBC.com.

Retorting from the theme of the conference “Dynamic, Media, Communication, and Culture”, students who are familiar with and labeled millennials present one example of NESTLE case when facing crisis communication. The big challenge is to attract public to continue believing in NESTLE.

Normally, PR still runs based on attributes. However, highlighting the voice of millennials who put emphasis on dynamics, the media and the communication process hold the main key to act as a goalkeeper. Regardless, anything still must have a fundamental reason and the principle of consistency to the value of honesty, both media factor, statement, and do not just hide behind "reality" which actually paralyzes trust.


Cikarang, 22 November 2018 President University salah satu kampus swasta internasional mengadakan konferensi ilmiah nasional di bidang ilmu komunikasi di Charles Himawan Auditorium, President University. 17 universitas di Indonesia, baik mahasiswa universitas swasta dan negeri turut ambil bagian untuk memaparkan dan mewejangkan gagasannya lewat persentasi yang dibagi ke dalam beberapa sesi.

Crisis communication menjadi topik hangat yang dibawakan oleh beberapa mahasiswa ilmu komunikasi. Menurut analisis public relation seringkali dalam sebuah perusahaaan mengalami krisis komunikasi di era tantangan digital yang berimbas kepada produksi perusahaan. Citra dan reputasi menjadi aspek yang perlu dijaga seorang public relation agar tetap meningkatkan kepercayaan konsumen.

Problematikanya perusahaan kerap kali gagal dan tergelincir ketika melakukan proses brand image hanya karena fatalnya kesalahan internal seperti memalsukan integritas di hadapan publik dan tidak sengaja menyudutkan beberapa calon konsumen dengan adanya unsur ketersinggungan serta beberapa perusaahan yang menciptakan pertemuan pers hanya untuk sebuah klarifikasi yang tidak konsisten.

“Membangun reputasi membutuhkan waktu yang lama, namun reputasi bisa hancur hanya dengan waktu singkat." Pungkas dari beberapa mahasiswa dan praktisi ketika menjabarkan buah pikir serta perspektif yang didukung dengan referensi data yang sebagian bersumber BBC.com.

Menilik dari tema Dynamic, Media, Communication, and Culture di konferensi ilmiah nasional President Univesity, para mahasiswa yang akrab dan dicap dengan sebutan para milenial menghadirkan salah satu contoh kasus NESTLE ketika mengahadapi crisis communication. Tantangan besar adalah menarik dan menggaet publik untuk tetap percaya.

Lumrahnya, PR tetaplah berjalan berdasarkan atribut. Namun, menyoroti suara para milenial yang memasang penekanan dinamika, media serta proses komunikasi memegang kunci utama untuk berkiprah sebagai penjaga gawang. Bagaimana pun, hal apa pun harus tetap memiliki alasan yang mendasar dan prinsip konsistensi kepada nilai kejujuran. Baik faktor media, pernyataan, jangan bersembunyi di belakang “kenyataan’ yang justru melumpuhkan kepercayaan.