News

What's happening in PresUniv


Published: 03 May 2018

The illustration shown by Roeen Rahmani, Rector and Counselors of Kardan University, made smiles to all the participants of The 2nd International Conference on Family Business & Entrepreneurship (ICFBE) 2018. Kardan University is a campus from Afghanistan and became co-host for ICFBE 2018, which was held in collaboration with President University and Bisnis Indonesia in Hotel Patra Bali Resorts Kuta, Badung, Bali.

The illustration describe that the big fish prey the small fish. "It happened in the past. The condition is different now, the small fish will prey large fish. And it happened in the disruption era," said Rahmani.

Rahmani mentioned examples. Previously, Uber Taxi just a small company who develop the applications to bring together the owner of the vehicle (idle vehicle or unused) with those people who need transportation service. Uber, as well as Alibaba or Airbnb and various other applications, is a small fish. Their competitor is a well-established taxi companies, the giant retailer corporations or top hotel chains. Who would have thought now, Uber Taxi, Alibaba or Airbnb prey those well-established companies?

Refer to the data. Currently the market capitalization of top hotel chains such as the Hilton is US $23.6 billion, JW Marriott US $18.0 billion and hosted US $12.7 billion. How much market cap of Airbnb? US $31,0 billion.

That's disruption in the world of business. The phenomenon is not only happen in Indonesia, but also in the whole world. Why it is happen? Said Hariyadi B. Sukamdani, Chairman of Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), "It is because we overstate the short-term impact of the technology, but underestimate the long-term effects,"

What should we do then? There are some recommendations proposed by Hariyadi. First, fix the business environment. This can be done by make it more flexible, and more effective regulation, as well as make the data as a guide.

Second, skills improvement. This could be done through further develop cooperation between the educational institution with corporations, design skills which will be needed in the future.

Third, Hariyadi said, the importance of innovation. "Companies need to apply digital technologies and applications as early as possible. Then, create an innovative workplace," advised him. Such as, by implementing e-platforms to be a media for sharing best practices.

That experience applied in Business Indonesia newsletter by Hariyadi, one of his media companies. The newspaper innovatively develop various products and services that more comprehensive. So, it's just not a “traditional” print media, just like in the past.


Ilustrasi yang ditampilkan Roeen Rahmani, Rektor dan sekaligus Konselor Kardan University, membuat segenap peserta The 2nd International Conference on Family Business & Entrepreneurship (ICFBE) 2018 tersenyum-senyum. Kardan University adalah sebuah kampus yang berasal dari Afghanistan dan menjadi co-host ajang seminar dan conference ICFBE 2018 yang digelar bersama oleh President University dan Harian Bisnis Indonesia di Hotel Patra Bali Resorts & Villas di kawasan Pantai Kuta, Badung, Bali.


Ilustrasi itu menggambarkan ikan besar yang memangsa ikan-ikan kecil. “Itu yang terjadi pada masa lalu. Sekarang kondisinya berbeda. Justru ikan-ikan kecil yang memangsa ikan-ikan besar. Dan, itulah yang terjadi pada era disruption,” papar Rahmani.

Rahmani menyebutkan contoh. Paparnya, dulu Uber Taxi hanyalah perusahaan kecil yang mengembangkan aplikasi untuk mempertemukan para pemilik kendaraan (yang kendaraannya idle atau tidak terpakai) dengan mereka yang membutuhkan layanan angkutan. Uber, seperti juga Alibaba atau Airbnb dan berbagai aplikasi lainnya, adalah ikan-ikan kecil. Lawan mereka adalah perusahaan-perusahaan taksi mapan, perusahaan-perusahaan ritel raksasa atau jaringan hotel papan atas. Siapa sangka kini Uber Taxi, Alibaba atau Airbnb justru memangsa perusahaan-perusahaan mapan tersebut.

Lihat datanya. Sampai saat ini market capitalization jaringan hotel papan atas seperti Hilton adalah US$23,6 miliar, JW Marriott US$18,0 miliar dan Host US$12,7 miliar. Berapa market cap Airbnb? US$31,0 miliar.

Begitulah disruption di dunia bisnis. Fenomena semacam ini tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Mengapa itu sampai terjadi? Kata Hariyadi B. Sukamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), “Itu karena kita melebih-lebihkan dampak jangka pendek dari teknologi, tetapi underestimate terhadap efek jangka panjangnya.”

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Ada beberapa rekomendasi yang diajukan Hariyadi. Pertama, membenahi lingkungan bisnisnya. Ini, antara lain, bisa dilakukan dengan membuatnya menjadi lebih fleksibel dan regulasi yang lebih efektif, serta menjadikan data sebagai panduan.

Kedua, peningkatan ketrampilan (skills). Ini bisa dilakukan lewat membangun kerja sama yang lebih erat antara dunia pendidikan dengan korporasi, merancang ketrampilan-ketrampilan apa saja yang dibutuhkan pada masa mendatang.

Ketiga, papar Hariyadi, adalah pentingnya melakukan inovasi. “Perusahaan perlu menerapkan teknologi dan aplikasi digital sedini mungkin. Lalu, bangunlah tempat kerja yang inovatif,” saran dia. Di antaranya, dengan menerapkan e-platforms untuk sarana sharing praktek-praktek kerja terbaik.

Pengalaman seperti itu, antara lain, diterapkan Hariyadi di Harian Bisnis Indonesia, salah satu perusahaan media yang dipimpinnya. Harian itu secara inovatif mengembangkan berbagai produk dan layanan yang lebih komprehensif. Jadi, tak lagi hanya media cetak tradisional, seperti pada masa lalu.