News

What's happening in PresUniv


Published: 03 May 2018

Bali, May 2nd, 2018. Business and entrepreneurship in Indonesia is facing disruption phenomenon, business era where competition become random and occurs rapidly along with digital information technology growth. The effort to make family business and entrepreneurship to be able to sustain in disruption era become one of the key topics in International Conference on Family Business and Entrepreneurship (ICFBE) 2018 on May 2-4, 2018 in Bali.

ICFBE 2018 is an international conference for researchers and academicians in Indonesia and from various countries, held by President University, one of international scale universities in Indonesia which was established to be research center, the development of education, and community service.

Attending the event, Veland Ramadani, Ph.D (Associate Professor, South East European University, Inderscience Journal Editor), Dr. Srividya Raghavan (Chairperson and Associate Professor, Center of Excellence – Entrepreneurship Development, Dr.Ir. Patdono Suwignjo, M.Eng.Sc (Director General of Institutional for Science, Technology and Higher Education, DIKTI), Ir. Adrianto Djokosoetono, M.B.A (Director, BlueBird Tbk. PT), Dr. Roeen Rahmani (Chancellor, Kardan University), and Ir. Dwi Larso, MSIE., Ph.D (Vice Rector for Academics, President University).

ICFBE become a platform where researchers and academicians from all over the world share their findings on Family Business and Entrepreneurship. There are several points highlighted on ICFBE 2018 and need to be noticed by family business and entrepreneurship practitioners in order to be able to face disruption era, namely: trusted person, and founder’s value adaptation in business strategy and transformation management in decision making.

Family Business is one of spheres from Entrepreneurship. The phenomenon in Indonesia itself, 90-95% companies come from family business. Practically, in running a business, people tend to choose someone trusted, such as family or relatives. This may cause conflict when the business started to grow.

Moreover, in the current disruption issue, from Family Business perspective become important to be discussed. For instance, when a family business adopted values from its founder and face disruption, will the value can adapt fast with the era or will it be carried out by the rapid technology change and internationalization.

The company’s adaptation toward disruption era can be seen by decision making in its strategic management. Strategic management is a discipline to formulate and implement strategy. When the rapid change occurs in this modern era, strategic alliance becomes important to measure whether family business could be agile in building alliance outside the family itself.

In ICFBE 2017 on May 3-5, there were more than 110 academicians and researchers from 12 countries gathered in the event, sharing their findings, along with the business practitioners and local government. To name a few: Darmin Nasution, Coordinating Minister of Economic Affairs, Republic of Indonesia, Prof. James Hoopes from Babson College, USA, Prof. Hora Tjitra from Tjitra & Associate, Haryadi B. Sukamdani, Chairperson of Asosiasi Pengusaha Indonesia, and other notable speakers.


Bali, 2 Mei 2018. Dunia bisnis dan entrepreneurship (wirausaha) di Indonesia sedang menghadapi fenomena disruption (disrupsi). Sebuah era bisnis dimana persaingan kompetitor menjadi acak (tidak sejenis) dan terjadi sangat cepat seiring pertumbuhan teknologi informasi digital. Upaya menjadikan bisnis keluarga dan dunia entrepreneurship agar dapat bertahan di era disrupsi menjadi salah satu tema inti dalam International Conference on Family Business and Entrepreneurship (ICFBE) 2018 pada tanggal 2 - 4 Mei, 2018 di Bali.

 

ICFBE 2018 adalah konferensi internasional dari kalangan peneliti dan akademisi perguruan tinggi di Indonesia dan dari berbagai negara yang diselenggarakan oleh President University, salah satu universitas swasta berskala internasional di Indonesia yang didirikan untuk menjadi pusat penelitian, pengembangan dunia pendidikan dan pengabdian masyarakat.

 

Hadir sebagai pembicara ICFBE 2018 diantaranya: Veland Ramadani, Ph.D, Associate Professor, South East European University, Inderscience Journal Editor, Dr. Srividya Raghavan (Chairperson and Associate Professor, Center of Excellence – Entrepreneurship Development), Dr.Ir. Patdono Suwignjo, M.Eng.Sc (Director General of Institutional for Science, Technology and Higher Education, DIKTI), Ir. Adrianto Djokosoetono, M.B.A (Director, BlueBird Tbk. PT), Dr. Roeen Rahmani (Chancellor, Kardan University), and Ir. Dwi Larso, MSIE., Ph.D (Vice Rector for Academics, President University).

 

ICFBE menjadi tempat bertemunya para peneliti dan akademisi dari berbagai belahan dunia yang membahas temuan seputar Family Business (Usaha Keluarga) dan Entrepreneurship (Kewirausahaan). Beberapa hal yang disoroti dalam ICFBE 2018 dan perlu menjadi perhatian kalangan usaha keluarga dan dunia entrepreneurship agar dapat bertahan dalam menghadapi era disrupsi diantaranya: keberadaan orang kepercayaan, adaptasi nilai-nilai pendiri dalam strategi bisnis dan transformasi manajemen dalam membuat kebijakan agar bisnis dapat bertahan.

 

Seperti diketahui bersama, bisnis keluarga (Family Business) merupakan salah satu ranah dari entrepreneurship. Fenomenanya sendiri di Indonesia, 90-95% perusahaan itu berawal dari Family Business. Pada prakteknya, dalam menjalankan bisnis orang akan cenderung memilih seseorang yang bisa dipercaya, seperti anggota keluarga. Hal seperti ini kerap kali memicu konflik ketika bisnis tersebut sudah berkembang.

 

Terlebih lagi pada isu disrupsi sekarang ini, jika dilihat dari perspektif  Family Business penting untuk dibahas juga. Sebagai contoh, jika pada sebuah usaha keluarga mengambil nilai-nilai dari perintisnya dan dihadapkan pada disrupsi, apakah nilai tersebut bisa beradaptasi dengan cepat seiring dengan zaman ataukah akan ikut tergerus oleh perubahan teknologi yang sangat cepat dan internasionalisasi.

 

Adaptasi perusahaan pada era disrupsi terlihat dengan perubahan pada pengambilan keputusan dalam strategic management-nya. Strategic management merupakan bidang ilmu untuk memformulasi dan mengimplementasikan strategi.  Ketika sekarang semuanya bergerak dengan cepat, aliansi strategis menjadi penting, apakah usaha keluarga bisa lebih agile dalam membangun aliansi diluar keluarganya itu sendiri.

 

Melihat dari urgensi tersebut, diperlukan dokumentasi dan wadah bagi pembahasan fenomena tersebut dalam ranah praktis yang berfokus pada Family Business. International Conference on Family Business and Entrepreneurship (ICFBE) menjadi tempat bertemunya para peneliti dan akademisi dari berbagai belahan dunia yang membahas temuan seputar Family Business (Usaha Keluarga) dan Entrepreneurship (Kewirausahaan). Tahun ini, ICFBE memiliki tema “Family Business and Entrepreneurship Sustainability in the Current Global Scenario” yang diangkat dari berbagai fenomena dalam era disrupsi saat ini yang dipecah ke dalam tiga sub topik, yaitu Family Business, Entrepreneurship, dan Strategic Management. Ketiga sub topik tersebut memiliki lingkup yang luas yang membahas Business Disruption: How It Works and How to Anticipate; The Implementation of Performance Management and Sustainability in Family Business; Agile Entrepreneurs In A More Disruptive Business Era.

 

Dalam ICFBE 2018, jumlah peserta yang hadir mencapai 150 orang atau meningkat lebih dari 50% dari ICFBE 2017. Para peneliti dan akademisi yang hadir dalam ICFBE 2018 berasal dari sembilan Negara yaitu: Indonesia, Afghanistan, India, Malaysia, Sri Lanka, Britania Raya, Thailand, Bahrain, dan Pakistan. Karya tulis (jurnal) terpilih dari ICFBE 2018 akan dipublikasikan dalam 15 jurnal terindeks Scopus, Clarivate Analytics dan Web of Science. Artinya, setiap karya tulis yang masuk memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk dapat terpublikasi dalam jurnal terindeks Scopus dan Internasional. Tahun ini ICFBE 2018 juga menggandeng Bisnis Indonesia, Kardan University Afghanistan, Indonesia Strategic Management Society, dan IFIM Business School untuk menjadi Co-Host.