News

What's happening in PresUniv


Published: 08 Jan 2018

Cikarang, Indonesia—Many higher education institutions in Indonesia claims their institutions as Entrepreneur University. However, if being asked what are the indicators towards the claims, the answer is still vague. One of the most popular indicators used is using the total amount of university graduates that becomes an enterpreneur. But, how many?

Referring to some abroad universities, the total amount is quite high. According to Financial Times (2015), there are 46% MBA alumni from Babson College in the United States open their business right after they graduate. The number is increasing three times since 2012 that was only 17%.

The same situation is also occur in other higher education institutions. For instance, in Ipade Business School in Mexico City, Mexico, 46% of its graduate build start-up business. It has been increased by 70% compared to 2012 which was only 6%. Or in Stanford's Graduate School of Business right after graduate, 34% of the alumni (14% in 2012) open their business.

Same thing goes with Harvard Business School (28% in 2015 increased by 6% from 2012), Oxford (27% - 5%), and some other universities. In conclusion, average number of alumni who set up their own business since 2012 until 2015 grow more than three times.

Is this the indicator of an Entrepreneur University?  Or is there any other parameter that can be used to measure how far a university develops its potency to innovate the entrepreneurship? To answer some of the questions, University of Gloucestershire (UoG), England, collaborated with President University (PresUniv) to hold a workshop which discuss this matter. The topic is "Growing Indonesia - A Triangular Approach (GITA)".

A Workshop which was held in Celecton Hotel, Cikarang, West Java, on 7 - 12 December 2017, involved by seven higher education institutions from Indonesia and three from Europe. They are; Universitas Padjajaran, Bandung; Universitas Brawijaya and STIE Malangkucecwara from Malang, East Java; Universitas Negeri Semarang, Semarang, Central Java; Univeristas Ahmad Dahlan and Universitas Islam Indonesia from Yogyakarta; Dublin Institute of Technology, (Ireland); Fachhochschule des Mittelstands (Germany); The University of Innsbruck (Austria).

According to Adhi Setyo Santoso, Director of Setsail Biz Accel, a business incubator under PresUniv, "GITA can be used to maintain the capacity of students, alumni, lecturers, and civitas academica of the university in developing Entrepreneurial University. This is important for higher education institutions and other organizations in order to face the rapid and disruptive changes."

Meanwhile, Nadine Sulkowski from UoG stated, "In Indonesia with more than 260 million population, as a country with the highest economy growth in Southeast Asia, the support for start-up business is still fragmented. It need a more coordinated approach by involving education sector, government, and Industry to build the capacity of entrepreneurship."

How GITA can accommodate higher education institutions' effort to be the real Entrepreneur University, not only a baseless claim? Follow the next article.


Cikarang, Indonesia—Banyak perguruan tinggi (PT) di Indonesia yang mengklaim institusinya sebagai Entrepreneur University. Namun, kalau ditanya apa ukurannya, jawabannya kerap kali tak terlalu jelas. Salah satu indikator yang paling sering diajukan adalah banyaknya lulusan yang menjadi wirausahawan. Berapa banyak?

Jika merujuk beberapa PT di luar negeri, jumlahnya lumayan banyak. Mengutip data Financial Times (2015), ada 46% alumni MBA dari Babson College di Amerika Serikat (AS) yang begitu lulus langsung membuka usaha sendiri. Angka ini melonjak hampir tiga kali lipat ketimbang tahun 2012 yang hanya 17%.

Potret serupa juga terjadi pada berbagai PT lainnya. Misalnya, di Ipade Business School di Mexico City, Meksiko, sebanyak 46% lulusannya langsung mendirikan startup. Ini berarti tumbuh hampir 70% ketimbang tahun 2012 yang hanya 6%. Atau di Stanford’s Graduate School of Business yang begitu lulus langsung, 34% alumninya (tahun 2012 baru 14%) langsung membuka usaha sendiri.

Begitu pula dengan di Harvard Business School (28% pada 2015 berbanding 6% untuk tahun 2012), Oxford (27% - 10%), MIT Sloan (26% - 8%), London Business School (25% - 5%), dan sejumlah PT lainnya. Jadi rata-rata lulusan MBA yang langsung mendirikan usaha sendiri sejak tahun 2012 hingga 2015 tumbuh lebih dari tiga kali lipat. 

Apakah ini ukuran Entrepreneur University? Atau, adakah parameter lain yang bisa digunakan guna mengukur sudah seberapa jauhkah suatu PT mengembangkan potensi untuk melakukan inovasi dan kewirausahaannya? Untuk menjawab sebagian dari pertanyaan tersebut, University of Gloucestershire (UoG), Inggris, bekerja sama dengan President University (PresUniv) menyelenggarakan workshop yang membahas soal ini. Topiknya “Growing Indonesia – a Triangular Approach (GITA)”.

Workshop yang diselenggarakan di Hotel The Cellecton, Cikarang, Jawa Barat, pada 7 – 12 Desember 2017 itu melibatkan tujuh PT dari Indonesia dan tiga dari Eropa. Mereka adalah PresUniv; Universitas Padjajaran, Bandung; Universitas Brawijaya dan STIE Malangkucecwara, keduanya dari Malang, Jawa Timur; Universitas Negeri Semarang dari Semarang, Jawa Tengah; Universitas Ahmad Dahlan dan Universitas Islam Indonesia, keduanya dari DI Yogyakarta; Dublin Institute of Technology (Irlandia); Fachhochschule des Mittelstands (Jerman); dan The University of Innsbruck (Austria).

Kata Adhi Setyo Santoso, Direktur SetSail Biz Accel, sebuah inkubator bisnis di bawah PresUniv, “GITA dapat dipergunakan untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa, lulusan, dosen dan civitas academica PT dalam mengembangkan Entrepreneurial University. Ini penting agar PT dan setiap organisasi mampu menghadapi perubahan-perubahan yang semakin cepat dan disruptif.”

Sementara, Nadine Sulkowski dari UoG mengatakan, “Di Indonesia dengan populasi lebih dari 260 juta, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dukungan untuk startup masih terfragmentasi. Ini memerlukan pendekatan yang lebih terkoordinasi dengan melibatkan dunia pendidikan, pemerintah dan kalangan industri guna membangun kapasitas kewirausahaan.”

Bagaimana GITA dapat menjembatani upaya-upaya PT untuk menjadi Entrepreneur University yang sebenarnya, tak hanya sekadar klaim yang tanpa dasar? Ikuti tulisan berikutnya.