News

What's happening in PresUniv


Published: 06 Jul 2017

New Delhi, India – The Ministry of External Affairs of India invited Prof. Anak Agung Banyu Perwita, one of the lecturers of International Relations Study Programme in President University, to the Ninth Edition of Delhi Dialogue that took place in Taj Palace Hotel, New Delhi (July, 4-5). With the theme “Charting the course for India-ASEAN relations for the Next 25 Years”, Prof. Banyu delivered a paper presentation on the current regional politico-security and its impacts to the power management in Asia Pacific. He is one of the only two speakers from Indonesia who have been invited by the Ministry of External Affairs, India.

Moderated by Shri Sanjeev Sanyal, The Principal Economic Adviser, Ministry of Finance, Government of India, Prof. Banyu participated as one of the panelists in a panel discussion with the topic “Waters of Asia: Cultural, Social, and Political Ties”. The panel deliberated upon the socio-political economy of water and discussed issues such as the need for a rules based maritime order in the Asia Pacific; Cooperation among regional states to develop maritime infrastructure and their ability to exercise greater control over their exclusive economic zones; feasibility of development of a seamless chain of maritime security coalitions spanning the Asia-Pacific as well as increasing stress on bilateral cooperation among states in the maritime domain.

In the panel, Prof. Banyu said that following the uncertain behavior of China, Indian Ocean has become unpredictable and it might become the next battle ground.

“The new political leadership in both India and Indonesia are quite strong in taking firm decisions and they can play a vital role in checking Chinese behavior”, said Prof. Banyu.

Furthermore, he also suggested that Indonesia could play the role of "power broker" between India and China if required.

“This Delhi Dialogue aims at strengthening the multilateral connection between India and ASEAN. India is now the major power in Indian ocean and in order to achieve the common goals of India and ASEAN, namely common prosperity and regional stability, there is no other way for both parties to further elevate the bilateral and multilateral relations in any aspects: economy, political and socio cultural”, shared Banyu.

Delhi Dialogue is an annual Track 1.5 forum for discussing politico-security and economic issues between ASEAN and India. The year 2017 marks the completion of 25 years of ASEAN-India relations and calls for a deeper and multifaceted engagement on a sustained basis. The event was attended by Heads of Delegation from ASEAN countries and Chief Ministers of North Eastern States of India.

Being invited to the Dialogue, Prof. Banyu stated that this is not only a very important acknowledgment for his personal achievements as an International Relations scholar in Indonesia, but also a sort of a significant medium for him to further introduce PresUniv to the regional level in South East Asia.

 “I have been approached by some other eminent universities and research think tanks here to establish collaboration with them, especially between President Center for International Studies (PRECIS), which is under School of IR (International Relations), President University and other similar institutions. Surely, this will be a very good to further expose PresUniv to the wider South Asia Region”, stated Banyu. (AA)


New Delhi, India – Kementerian Luar Negeri India mengundang Prof. Anak Agung Banyu Perwita, salah satu dosen program studi Hubungan Internasional di President University, untuk hadir pada Ninth Edition of Delhi Dialogue yang bertempat di Hotel Taj Palace, New Delhi (4-5 Juli). Dengan tema “Memetakan Jalur Hubungan India-ASEAN untuk 25 Tahun ke Depan”, Prof. Banyu menyampaikan sebuah presentasi mengenai keamanan politik regional saat ini dan dampaknya terhadap manajemen kekuasaan di Asia Pasifik. Ia merupakan salah satu dari dua pembicara dari Indonesia yang diundang oleh Kemenlu India.

Dimoderatori oleh Shri Sanjeev Sanyal, Kepala Penasihat Ekonomi, Kementerian Keuangan, Pemerintahan India, Prof. Banyu berpartisipasi sebagai salah satu panelis di dalam sebuah panel diskusi dengan topik “Waters of Asia: Cultural, Social, and Political Ties”. Panel ini menggali lebih dalam terkait keamanan politik ekonomi perairan dan mendiskusikan isu-isu seperti kebutuhan atas peraturan-peraturan yang berdasarkan perintah maritim di Asia Pasifik; Kerja sama di antara negara-negara regional untuk mengembangkan infrastruktur maritim dan kemampuan mereka untuk dalam menjalankan kontrol atas zona ekonomi eksklusifnya; kemungkinan pengembangan rantai koalisi keamanan maritim yang mulus di Asia Pasifik termasuk juga meningkatnya kepentingan kerja sama bilateral di antara negara-negara di wilayah maritim.

Dalam panel tersebut, Prof. Banyu mengatakan bahwa mengikuti tingkah laku Negara Cina yang tidak menentu, Samudra India telah menjadi daerah yang tidak dapat diprediksi dan dapat menjadi medan pertempuran selanjutnya.

 

“Kepemimpinan politik yang baru di India dan Indonesia cukup kuat dalam mengambil keputusan-keputusan yang tegas dan mereka dapat memainkan peran yang penting dalam memeriksa tingkah laku Negara Cina”, ujar Prof. Banyu.

 

Ia juga menyarankan bahwa Indonesia dapat memainkan peran ‘power broker’ di antara India dan Cina jika diperlukan.

“Delhi Dialogue ini bertujuan untuk memperkuat koneksi multilateral antara India dan ASEAN. India saat ini merupakan kekuatan yang besar di Samudra Hindia dan untuk mencapai tujuan bersama India dan ASEAN, sebut saja kemakmuran umum dan stabilititas regional, tidak ada cara lain bagi kedua belah pihak untuk meningkatkan hubungan bilateral dan multilateral dalam banyak aspek: ekonomi, politik, dan sosial budaya”, tegas Banyu.

Delhi Dialogue merupakan forum tahunan untuk mendiskusikan isu-isu keamanan politik dan ekonomi antara ASEAN dan India. Tahun 2017 menandakan 25 tahun atas hubungan ASEAN-India dan membutuhkan pertemuan multifaset yang berkelanjutan. Acara ini dihadiri oleh Para Pimpinan Delegasi dari negara ASEAN dan Para Menteri dari Negara-Negara Timur Laut India.

Diundang dalam dialog tersebut, Prof. Banyu menyatakan bahwa hal ini bukan hanya merupakan penghargaan yang penting bagi pencapaian-pencapaian pribadinya sebagai praktisi Hubungan Internasional di Indonesia, namun juga merupakan medium yang signifikan baginya untuk memperkenalkan President University ke level regional Asia Tenggara.

“Saya telah didekati oleh beberapa universitas terkenal dan lembaga-lembaga riset di sini untuk membangun kerja sama dengan mereka, terutama antara mereka dan President Center for International Studies (PRECIS), yang berada di bawah Fakultas Hubungan Internasional President University dan institusi-institusi serupa lainnya. Tentu saja, hal ini sangat baik untuk memperkenalkan PresUniv ke wilayah Asia Tenggara yang lebih luas”, ujar Banyu. (AA)